Laman

Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 26 Maret 2015

Kisah Malaikat Jibril dan Mikail Menangis Ketika Allah Melaknat Iblis







Iblis merupakan musuh bagi umat manusia, sepanjang hidupnya Iblis sudah bersumpah kepada Allah bahwa ia akan berusaha untuk menyesatkan anak cucu Adam yang jauh dari jalan Allah agar mereka mau menjadi pengikutnya dan menjadi orang-orang yang tersesat. Untuk itu, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kita tidak terhasut oleh tipu daya Iblis.

Tapi, tahukah Anda bahwa jauh sebelum nabi Adam diciptakan, Iblis adalah merupakan makhluk yang mulia disisi Allah dan merupakan salah satu makhluk yang paling di hormati oleh Malaikat. Kasih sayang Allah terbesar kepada Iblis adalah bahwa yang pertama dia telah mendapatkan taufik untuk menyembah Allah SWT. Yang kedua karena ibadahnya yang banyak, dia dimasukkan ke dalam kumpulan para malaikat. Dan sebaik-baik pertolongan Allah kepadanya adalah ia menjadi teman pendamping para malaikat sehingga dapat memahami keindahan, kesucian dan kebersihan mereka.

Saking mulianya Iblis pada masa itu, dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa Iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, lalu langit yang kedua disebut az-Zahid, kemudian langit ketiga namanya disebut al-Arif, pada langit keempat namanya adalah al-Wali, pada langit kelima namanya disebut at-Taqi, pada langit keenam namanya disebut al-Kazin, dan pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz (Lauhul Mahfudz) namanya ialah Iblis.

Dikisahkan Iblis dulunya adalah ahli ibadah yang tidak pernah membangkang dan mengeluh terhadap perintah-perintah Allah. Ia pernah bersujud kepada Allah selama 1000 tahun lamanya dan ia sangat giat dalam beribadah.

Baca Juga: Keajaiban Al Quran Tentang Relativitas Waktu

Bahkan Iblis pernah menjadi Sayyidul Malaikat (Penghulu atau Pemimpin Malaikat), dan Khozinul Jannah (Bendahara Surga). Namun, lama-kelamaan Iblis menjadi sombong dan angkuh. Ia menganggap bahwa dirinya adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya di antara makhluk-makhluk Allah yang lain.

Hingga pada suatu saat ketika Allah baru saja menciptakan Adam sebagai manusia, maka Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam, lalu Iblis berkata, "Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam dari pada tanah.". Kemudian Allah berfirman kepada Iblis, "Aku membuat apa yang Aku kehendaki.".

Oleh karena iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam karena ia merasa bangga dan sombong. Dia berdiri tegak hingga malaikat selesai bersujud. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati Iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud.

Maka para malaikat bersujud kembali untuk kali kedua kerana bersyukur, tetapi Iblis telah dirasuki oleh sifat angkuh dan sombong tetap enggan sujud. Dia berdiri tegak dan berpaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikuti mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas pembangkangannya terhadap Allah.

Kemudian Allah merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan ke bentuk hina yang menyerupai babi hutan. Allah membentuk kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.

Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari surga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi, Allah melaknatnya hingga hari kiamat kerana dia menjadi kafir.

Baca Juga: Keajaiban Al Quran Tentang Atap yang Terpelihara

Meski Iblis pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap empat, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah membalas tipu daya iblis, maka menangislah Malaikat Jibril dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman kepada para Malaikat, "Apakah yang membuat kamu menangis?", lalu mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.". Kemudian Allah kembali berfirman kepada Malaikat, "Begitulah Aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaKu.".

Setelah di usir dari surga, maka Iblis berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Surga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu." Lalu Allah berfirman pada Iblis, "Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.". Berkata lagi iblis, "Tambahkanlah lagi untukku." Allah berfirman, "Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.".

Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Lalu Allah berfirman, "Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.". Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku.", maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, "Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, artinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda maupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, yaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram. Dan pada anak-anak, yaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.".

Hal ini juga disebutkan dalam surah al-Isra ayat 64 yang artinya:

"Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka." [QS. Al-Isra ayat 64]

Sebelum dilaknat Allah, Iblis pernah melakukan tugas-tugas mulia yang diperintahkan Allah kepadanya yaitu:

1. Iblis sebagai penjaga surga dalam kurun waktu 40.000 tahun.
2. Iblis pernah hidup bersama bergabung dengan Malaikat selama 80.000 tahun.
3. Iblis diangkat menjadi penasehat Malaikat selama 20.000 tahun.
4. Iblis menjadi pemimpin malaikat karobiyyun dalam waktu 30.000 tahun.
5. Iblis melakukan thowaf (mengelilingi) arasy bersama para malaikat dalam waktu 14.000 tahun.

Jadi, keseluruhan Iblis beribadah melakukan semua perintah Allah dalam kurun waktu 185.000 tahun lebih. Selama dalam ibadahnya seperti kita umat Islam, melakukan sholat, puasa, thowaf dengan para malaikat (mengelilingi baitul makmur di Arsy).

Iblis tidak merasa lelah dan mengeluh dalam menjalankan perintah Allah yang mulia ini. Iblis menjalankan dengan ikhlas, tidak ada niat apapun kecuali karena Allah semata.

Pada masa itu malaikat dan lainnya memberi gelar kepada Iblis Al A'ziz (makhluk Allah yang termulia), ada yang memberi gelar A'zazil (panglima besar malaikat).

Menurut kitab tafsir Munir dan Showi, Iblis beribadah pada Allah dalam masa 80.000 tahun, thowaf di baitul Makmur dan Arsy selama 14.000 tahun. Oleh karenanya dilangit pertama sampai ketujuh Iblis begitu dihormati oleh para Malaikat.

Malaikat di penjuru alam semesta, dari bumi, langit, baitul makmur, arsy, dan sebagainya, mereka semua menghormati pada Iblis sebagai makhluk Allah yang terhormat dan termulia, sehingga bila Iblis lewat di depan para malaikat, maka malaikat menghormati pada Iblis, bagaikan penghormatan prajurit kepada komandannya, pengawal istana pada rajanya, sehingga terhormatlah nama Iblis di penjuru alam semesta.

Namun sayang, di lauhul mahfudz, tulisan Iblis terselubung rapi tidak satupun makhluk yang tahu kecuali Allah, tertera Al-kafir Al-mal'un (Iblis inkar terkutuk). Dalam sumber lain, Iblis pada mulanya bernama Azazil dan tinggal di bumi. Azazil adalah jin yang taat kepada Allah dan memang Iblis sebenarnya adalah dari golongan Jin seperti pada firman Allah,

"Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat 'Sujudlah kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan Jin, maka ia mendurhakai Tuhannya" [QS. Al-Kahfi ayat 50]

Dia menyembah Allah selama 1000 tahun, lalu Allah swt mengangkatnya ke langit pertama. Di langit pertama, Azazil beribadah menyembah Allah selama 1000 tahun. Kemudian dia diangkat ke langit kedua, begitu seterusnya hingga akhirnya dia diangkat menjadi imam para malaikat.

Apa pun perintah Allah kepada malaikat juga adalah perintah baginya, karena dialah imam para malaikat yang memimpin malaikat. Azazil adalah imam dari seluruh malaikat (Al-muqorrobun, imamul jami'il malaikat).

Ada riwayat yang menyatakan Azazil beribadah kepada Allah selama 80.000 tahun dan tiada tempat di dunia ini yang tidak dijadikan tempat sujudnya ke hadirat Allah SWT.

Dalam satu riwayat menceritakan, malaikat Israfil melihat yang tersurat di Luh Mahfuz ada tercatat satu suratan yang berbunyi: "Adanya satu hamba Allah yang beribadah selama 80.000 tahun tetapi hanya kerana satu kesalahan, maka ibadah hamba itu tidak diterima Allah dan hamba itu terlaknat sehingga hari Kiamat.".

Maka menangislah Israfil karena bimbang makhluk yang tersurat di Loh Mahfuz itu adalah dirinya. Maka diceritakanlah Israfil kepada segala malaikat pengalamannya melihat apa yang tersurat di Loh Mahfuz.

Maka menangislah sekelian para malaikat karena takut dan bimbang dengan nasib mereka. Lalu semua malaikat datang menemui Azazil yang menjadi imam para malaikat, agar Azazil mendoakan keselamatan dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat.

Azazil pun mendoakan keselamatan di dunia dan akhirat kepada seluruh malaikat dengan doa: "Ya Allah, janganlah Engkau murka terhadap mereka (para malaikat)." Namun, Azazil lupa untuk mendoakan keselamatan untuk dirinya. Setelah mendoakan semua para malaikat, Azazil terus menuju ke surga. Di atas pintu surga, Azazil terlihat suratan yang menyatakan: "Ada satu hamba dari kalangan hamba-hamba Allah yang muqarrabin yang telah diperintahkan Allah untuk membuat satu tugasan, tapi hamba tersebut mengengkari perintah Allah. Lalu dia tergolong dalam golongan yang sesat dan terlaknat.".

Lalu Allah Menciptakan Adam as, dan memerintahkan malaikat untuk sujud menghormat kepada Adam. Azazil, sebagai imam para malaikat, sepatutnya lebih dahulu bersujud memimpin para malaikat. Tetapi, dia menolak, karena dia merasa bahawa dirinya lebih baik dari pada Adam. Sementara para malaikat lain terus sujud tanpa dipimpin oleh Azazil.

Bukan saja enggan sujud, Azazil malah sombong dan menjawab kepada Allah: "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?'" [QS. Al-Isra ayat 61]

Kesombongan Iblis ini berpuncak pada iri hati dan kedengkian Iblis terhadap Adam. Ia tidak terima karena Allah akan menciptakan Adam sebagai khalifah di bumi. Karena ia merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan ia lebih mulia karena diciptakan dari api.

Ia durhaka kepada Allah, takabur dan lupa akan dirinya dimata Allah. Tak seharusnya ia membangkang perintah Tuhannya. Maka setelah itu, Iblis akhirnya diusir dari surga. Namanya dirubah menjadi Iblis dan dia bersumpah akan menyesatkan manusia dibumi.

"Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". [QS. Al-Isra ayat 62]

Kemudian Allah berfirman, "Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup." [QS. Al-Isra ayat 63]

Dari kisah ini kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa Iblis yang dulunya adalah ahli Ibadah dan makhluk Allah yang mulia sekalipun bisa menjadi makhluk yang dilaknat oleh Allah karena kesalahannya. Untuk itu, sebaiknya kita menjauhi sifat-sifat Iblis seperti sombong, angkuh iri dengki dan yang lainnya agar kita terhindar dari laknat Allah.

Sumber dan Referensi:
Facebook
Wikipedia: Azazil

Sabtu, 21 Maret 2015

10 Wasiat Rosul Buat Wanita Sholehah




Ukhti, sebaik baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan ''perkara yang pertama kali ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima waktu dan ketaatannya terhadap suami,  (HR. Ibnu Hibban, dari Abu Hurairah).

Ukhti, ada 10  wasiat Rasullullah kepada putrinya Fatimah binti Rasullullah. Sepuluh wasiat yang Beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal nilainya bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah, wasiat tersebut adalah::

1. Ya Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung utk suami dan anak 2nya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum,melebur kejelekan, dan meningkatkan derajat wanita itu.

2. Ya Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak2nya, niscaya Allah menjadikan dirinya dgn neraka tujuh tabir pemisah

3.
Ya Fatimah, tiadala seorsng yang meminyaki rambut anak2nya lalu menyisirnyadan mencuci pakainny, melainkan Allah akan menetapkan  pahala baginya seperti pahala  memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang

4. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahankannya dari minum telaga kautsar pada hari  kiamat nanti

5. Ya Fatimah, yang utama dari seluruh keutamaan diatas adalah keridhoan suami terhadap istri. Andaikan suami tidak ridho kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu
Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah

6.
Ya Fatimah, apabila wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika waanita merasa sakit akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang di jalan Allah. Jika dia melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa2nya seperti dia dilahirkan dr kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat pertamanan indah yang merupakan bagian dari taman surga. Dan Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan sribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Ya Fatimahan, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dgn rasa senang dan ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa2nya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Dan Allah memberikan  kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.

8. Ya Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum dihadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9.
Ya Fatimah, tiadlah wanita yang membentangkan alas tidur buat suaminya dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala  amalnya, dan ALlah mengampuni dosa2nya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Ya Fatimah, tidalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari ah sakaratul sungai2 surga. Allah mempermudah sakaratul maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Dan Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

Begitu indah jadi wanita yg dengan kelembutan dan kasihny dapat merubah dunia. Maka jadilah wanita sholehah, agar negri menjadi indah, karena dirimu adalah tiang negri ini..

Semoga bermanfaat.....



Oleh : mukzizatislam.com

Kamis, 19 Maret 2015

BENARKAH ADA ARWAH GENTAYANGAN...?



DI lingkungan masyarakat sudah terkenal sekali dengan adanya roh gentayangan. Mereka percaya bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali berupa roh. Mereka juga beranggapan bahwa orang yang matinya tidak wajar seperti bunuh diri ataupun di bunuh orang lain maka arwahnya penasaran. Arwah tersebut akan meminta sesuatu agar arwahnya bisa tenang. Namun, adakah arwah gentayangan dalam Islam?
Tentang arwah gentayangan atau hantu ini merupakan opini yang salah kaprah. Bukan persoalan ada tidak orang yang telah diganggu oleh hantu tersebut, tetapi dalam hal mengalamatkan siapakah yang menakut-nakuti itu.
Memang ada riwayat yang menyebutkan adanya ruh manusia yang melihat bagaimana orang-orang yang masih hidup memperlakukan jasadnya.
Seperti yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Nabi SAW bersabda, “Jika jenazah telah siap, kemudian kaum lelaki memikulnya di atas pundak-pundak mereka, maka jenazah itu orang shalih ia berkata: ‘Segerakanlah aku!’, tetapi jika tidak (shalih), ia berkata kepada keluarganya: ‘Celaka, akan kalian bawa kemana aku?’ Segala sesuatu akan mendengar suaranya selain manusia, dan andaikan manusia mendengarnya niscaya akan jatuh tersungkur,” (HR. Bukhari).
Hal ini juga dikuatkan pula oleh dua hal:
Pertama, keterangan yang shahih menyebutkan bahwa orang kafir mendapat siksa kubur, sedangkan orang yang shalih mendapat nikmat di kubur, bagaimana sempat mereka bergentayangan dengan berbagai motif misal balas dendam, menolong temannya yang masih hidup atau mencari kesenangan lain di dunia?
Kedua, andai saja orang yang telah mati diberi kesempatan untuk beramal lagi, tentulah mereka memilih fokus untuk beribadah, bukan untuk balas dendam atau yang lainnya. Lagi pula bagaimana dengan hisabnya di akhirat jika dia membunuh setelah matinya? Bagaimana pula dengan catatan amalnya? Jelas hal ini menyelisihi dalil-dalil qath’i yang menyebutkan bahwa manusia putus amalnya ketika telah mati. Seperti hadits yang sudah sangat populer, “Jika manusia mati, maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya,” (HR. Muslim).
Allah dalam Q.S Al Mukminum: 99-100 memberitakan bahwa orang-orang yang telah dikuburkan mustahil bisa kembali ke dunia, kecuali dibangkitkan setelah hari kiamat. Orang-orang kafir (roh jahat) terkurung dalam penjara alam kubur. Dan pada ayat lain (Q.S Arrum :56), jadi tidak ada kekuasaan manusia (yang telah berada dialam kubur) untuk bisa kembali ke dunia ini.
Rasullah SAW mengabarkan bahwa setelah roh keluar dari tubuh manusia (mati), roh itu diantar oleh malaikat menuju penciptanya (Allah). Setelah itu dikembalikan kealam kubur. Di alam kubur roh mendapat pemeriksaan oleh malaikat Munkar dan Nakir. Melalui pemeriksaan itulah roh ditempatkan pada tempat yang layak baginya, “Kemudian dibukakanlah untuknya pintu ke arah surga. Lalu kepadanya dikatakan; Inilah tempat tinggalmu dan itu pulalah yang diserakan oleh Allah untukmu yaitu segala sesuatu yang ada di dalamnya. Mayit itu merasakan kenikmatan yang besar dan umat berbahagia. Kemudian dikeluarkanlah kuburnya itu sampai 70 hasta dan diberi penerangan di dalamnya. Tubuhnya dikembalikan sebagai mana permulaan dahulu. Rohnya diletakkan di dalam kelompok roh yang suci yaitu dalam tubuh seekor burung yang bertengger di salah satu pohon surga,” (H.R Ahmad).
Berdasarkan keterangan al-Qur’an dan hadis maka jelaslah bahwa tidak ada roh gentayangan, yang ada adalah roh orang yang mukmin tidak bisa terangkat keatas gara-gara utangnya yang belum terbayar. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada hantu, di dalam arti roh mati kedunia mengganggu manusia (HR. Muslim). Apa yang selama ini diyakini oleh sebagian besar umat Islam hanyalah tipu daya setan dari bangsa jin. Setanlah yang menyamar sebagai orang yang telah mati seperti dilihat oleh orang-orang yang tertipu.
Setanlah yang masuk ke dalam tubuh manusia dan mengaku-ngaku sebagi roh orang tua, atau orang-orang saleh. Karena hanya setan (jin) yang diberi kemampuan oleh Allah untuk masuk ke dalam tubuh manusia, sebagaimana keterangan Rasulullah SAW bahwa, “Sesungguhnya setan (jin) beredar di dalam diri manusia seperti aliran darah,” (HR. Bukhari Muslim). 

[rika/islampos/yayuelsahdotcom1/tempatkuberekspresi]



Jumat, 20 Februari 2015

Perbuatan Ini Sebabkan Pelakunya Masuk Neraka





DIANTARA manusia yang akan masuk neraka adalah wanita-wanita jahil yang suka memamerkan tubuhnya untuk merayu lelaki, dan tidak pernah mentaati perintah Allah SWT. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang tidak pernah aku lihat; orang yang membawa cambuk seperti ekor ternak, yang mereka gunakan untuk mencambuk orang lain, dan wanita yang berjalan dengan genitnya, dengan kepala seprti punuk unta yang miring ke salah satu sisi. Mereka tidak akan pernah masuk surga, bahkan mereka tidak akan mencium wanginya surga, kendatipun wangi surga itu tercium (oleh orang lain) dari jarak yang sangat jauh,” (H.R Muslim, al-Baihaqi, dan Ahmad)
Mengenai orang-orang yang memiliki cambuk seperti ekor binatang ternak, al-Qurthubi berkata, “Cambuk semacam ini dapat kita lihat bahkan sampai sekarang ini di Maroko.” Menanggapi ucapan Al-Qurtubi tersebut, Siddiq Hasan Khan berkata, “Memang cambuk yang demikian itu dapat dilihat setiap waktu dan di setiap tempat, dan jumlahnya semakin hari semakin banyak di kalangan para pemimpin. Semoga kita dilindungi Allah SWT dari semua yang dibencinya.”Di zaman sekarang ini pun kita masih dapat menyaksikan orang-orang seperti itu di banyak tempat mencambuk orang. Semoga orang-orang seperti itu dan sekutunya binasa!
Saat ini banyak wanita yang memakai pakaian tetapi mereka kelihatan seperti telanjang dan tampaknya fenomena seperti ini sudah sangat meluas pada masa sekarang ini. Persis yang dilukiskan oleh Nabi Muhammad SAW, mereka berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan genit, dengan kepala seperti punuk unta yang miring ke salah satu sisi.


 [Sumber: Ensiklopedia Kiamat/ Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi]


[1] Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, III, h. 316 no. 1326
[2] Yaqazah Uli al-I’tibar, h. 113

Selasa, 17 Februari 2015

ALAM BARZAKH DAN TEMPAT PARA ROH






KETIKA maut telah tiba, jasad kita dan roh pada diri kita akan terpisah. Roh akan pergi meninggalkan jasad ke alam barzakh. Di mana, alam itu merupakan tempat pengumpulan seluruh roh manusia. Roh-roh manusia di alam barzakh berada di tempat yang bertingkat-tingkat. Dari nas-nas yang ada, kami mengkalsifikasikannya sebagai berikut.
1. Roh para nabi
Roh mereka menempati kedudukan terbaik di tempat paling tinggi (‘illiyyin). Siti Aisyah mendengar Rasulullah SAW dalam detik-detik akhir kehidupannya mengucap, “Ya Allah, (tempatkan aku) di tempat tertinggi (ar-Rafiq al-A’la)!”
2. Roh para syuhada
Di sisi Allah, mereka hidup seraya mendapatkan rezeki yang sangat besar. Allah berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,” (QS. Ali Imran:169).
Masruq bertanya kepada Abdullah ibn Mas’ud mengenai ayat ini. Ibn Mas’ud menjawab, “Roh mereka berada di tengah-tengah burung hijau dan memiliki lampu pelita yang tergantung di langit. Roh itu dapat keluar dari surga sekehendak dirinya, kemudian kembali ke pelita-pelita tersebut,” (HR. Muslim).
Ini adalah roh sebagian syuhada, bukan semua syuhada, sebab di antara mereka ada yang rohnya tertahan karena memiliki hutang yang belum ditunaikan. Dari Abdullah ibn Jahsy diceritakan bahwa seorang laki-laki dating kepada Nabi SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang terjadi padaku jika aku terbunuh di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Surga.” Ketika orang itu berpaling, beliau bersabda, “Kecuali ada hutang.
"Baru saja Jibril memberi tahu aku.”
3. Roh mukmin yang shaleh
Roh mereka seperti burung yang bergelantungan di pohon surga. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman ibn Ka’ab ibn Malik, Nabi SAW bersabda, “Jiwa seorang muslim itu laksana burung yang bergelantungan di pohon surga sampai Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari kiamat,” (HR. Ahmad).
Perbedaan antara roh syuhada dengan roh kaum mukmin adalah bahwa roh syuhada berada di sangkar burung hijau sambil terlepas dan berjalan ke sana ke mari di taman surga lalu kembali ke lampu pelita yang tergantung di arasy. Sedangkan roh kaum mukmin berada di sangar burung yang tergantung di surge tetapi tidak berjalan ke sana-sini di surga. Keadaan kaum mukmin seperti burung yang bergelantungan di pohon surga tidak bertentangan dengan hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah SAW. Hadis tersebut menyatakan bahwa malaikat menggenggam roh seorang mukmin dan membawanya naik ke langit. Malaikat berseru, “Alangkah wanginya roh yang mendatangi kalian dari bumi!” Lalu mereka membawa roh itu menemui roh orang-orang beriman. 
kegembiraan mereka melebihi kegembiraan orang yang menemukan barangnya yang hilang.
Roh-roh kaum mukmin bertanya kepada si roh, “Apa yang dilakukan si fulan? 
Apa yang diperbuat si fulan?” Malaikat berseru, “Biarkan dia, sebab dia sebelumnya sengsara di dunia.” Lalu roh tersebut menjawab, “Si fulan telah mati, apakah ia mendatangi kalian?” Mereka menjawab, “Ia diseret ke neraka Hawiyah.
4. Roh tukang maksiat
Nas-nas yang menjelaskan azab yang diterima oleh orang maksiat telah dikemukakan. Orang yang kebohongannya merajalela diazab dengan besi yang ujungnya bengkok yang dimasukkan ke mulutnya sampai ke tungkuk.
Kepala orang yang meninggalkan shalat wajib karena tidur akan dihancurkan dengan batu. Para pezina, laki-laki atau perempuan akan disiksa di sebuah lubang seperti tungku dari tembikar untuk membakar roti yang bagian atasnya sempit, dan di bawahnya luas, sementara api menyala-nyala di bawahnya.
Orang yang suka makan riba berenang di lautan darah, dan di tepi lautan itu ada orang yang melemparinya dengan batu. Banyak juga hadis lain yang menceritakan tentang azab orang yang tidak bersuci dari kencingnya, orang yang suka mengadu domba di antara manusia, orang yang menyembunyikan harta ghanimah, dan lain-lain.
5. Roh orang-orang kafir
Disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah bahwa setelah melukiskan keadaan orang beriman sampai menempati tempatnya di surga, Nabi SAW menyebut keadaan orang-orang kafir beserta sekarat yang dialaminya. Setelah rohnya dicabut, roh itu keluar dari jasadnya dengan bau yang sangat busuk, sampai-sampai para malaikat yang membawanya ke pintu bumi berteriak, 
“Alangkah busuknya roh ini!” Kemudian mereka membawanya bertemu dengan roh-roh orang kafir lainnya. 


 [Sumber: Ensiklopedia Kiamat/Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi]


Minggu, 15 Februari 2015

Sifat Nikmat dan Azab Kubur di Akhir Zaman







DALAM hadis dari al-Barra’ ibn ‘Azib, Rasulullah SAW menuturkan bahwa malaikat bertanya kepada seorang mukmin, dan ia menjawabnya dengan baik. Setelah itu, terdengar seruan dari langit, “Hambaku benar. Beri dia pembaringan dari surga, berikan pakaian dari surga dan bukakanlah pintu menuju surga baginya!” Nabi melanjutkan, “Lalu ia diberikan wewangian dari surga, dan dilapangkan kuburnya sejauh pandangan mata. Malaikat mendatanginya (dalam riwayat lain: menyamar) dalam bentuk lelaki yang tampan, bajunya bagus, baunya wangi, dan berkata, ‘Bergembiralah dengan kemudahan yang telah kau terima (bergembiralah dengan ridha Allah dan surga yang berisi kenikmatan abadi). Ini adalah hari yang telah dijanjikan untukmu. Lali ia (si mukmin) berkata, ‘Siapakah engkau? Wajahmu penuh kebaikan.’ Ia menjawab, ‘Aku adalah amal shalehmu (Demi Allah, yang aku tahu, engkau cepat dalam ketaatan, lambat dalam maksiat. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan!).’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga dan pintu neraka, lalu dikatakan, ‘Ini tempatmu bila mendurhakai Allah. Allah membalas maksiatmuu dengan neraka ini.’ Ketika ia melihat surga, ia berdoa ‘Ya Tuhan, percepatlah datangnya kiamat agar aku dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan hartaku.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tenanglah!’”
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang kafir atau jahat, setelah memberi jawaban yang salah, terdengar seruan di langit, “Ia telah berdusta. Siapkanlah tempat tidur dari api neraka dan bukakanlah pintu menuju neraka!” Panas dan racun mendatanginya, dan kuburan menjepitnya hingga tulang-tulangnya remuk. Lalu datanglah kepadanya (dalam riwayat lain: menyamar) seorang laki-laki yang buruk wajahnya, kumal pakaiannya, busuk baunya, lalu berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyengsarakanmu! Inilah hari yang telah dijanjikan bagimu.” Si kafir berkata, “Siapa kau? Wajahmu membawa kejahatan.” Yang ditanya menjawab, “Aku adalah amal burukmu (Demi Allah, yang aku tahu, engkau lambat dalam menaati Allah dan cepat dalam berbuat maksiat. Semoga Allah membalasmu dengan kejahatan!).” Kemudian Allah menjadikannya buta, tuli, bisu. Di tangan malaikat ada potongan besi yang jika dipakai untuk memukul gunung, gunung itu akan hancur jadi debu. Malaikat memukul si kafir dengan alat itu sampa menjadi debu. Kemudian bentuknya dikembalikan lagi seperti semula, lalu ia dipukul lagi sampai ia berteriak histeris yang terdengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan pintu neraka dan disiapkan untuknya tempat tidur dari neraka. Ia berteriak, “Ya Tuhan, jangan kau datangkan hari kiamat.”
Dalam hadis Anas disebutkan bahwa seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan malaikat dengan benar di dalam kubur, kepadanya dikatakan, “Lihatlah tempat tinggalmu di neraka. Namun Allah menggantinya dengan surga.” Ia melihat neraka dan surga. Qatadah berkata, “Ada riwayat bahwa kuburnya di lapangan.” Dalam hadis Anas juga disebutkan bahwa orang kafir dan munafik setelah menjawab dengan salah di dalam kubur, kepadanya dikatakan, “Kau tidak mengetahui dan tidak mengikuti.” Kemudian ia dipukul dengan palu besi pada bagian di antara dua telinganya. Ia menjerit histeris hingga terdengar oleh yang sekitarnya kecuali manusia dan jin. (HR. Bukhari dan Muslim).
Redaksi hadis di atas versi Bukhari. Versi Muslim, “Sesungguhnya jika seorang hamba telah dimasukkan ke dalam kubur …” dan seterusnya (seperti telah disebutkan sebelumnya) sampai kepada, “kuburannya di lapangkan sejauh tujuh puluh hasta dan penuh dengan nuansa hijau sampai hari kebangkitan.”
DALAM riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa seorang hamba mukmin setelah tanya jawab, ia dibawa malaikat ke rumahnya di neraka. Kepadanya dikatakan, “Ini tadinya untukmu, namun Allah melindungimu dan menggantinya dengan rumah di surga.” Setelah melihat rumah itu, ia berkata, “Biarkan aku pergi agar dapat memberi kabar gembira kepada keluargaku.” Dikatakan kepadanya, “Tinggalah di sini.”
Dari hadis-hadis di atas dapat ditarik benang merah bahwa setiap manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya nanti setelah ditanya di dalam kubur, dan itu berlangsung terus menerus selama di dalam kubur. Dalam hadis riwayat Abdullah bin Umar RA, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian mati, akan diperlihatkan tempat tinggalnya pada pagi dan sore. Bila ia termasuk penghuni surga, maka tempat tinggalnya dari surga; bila ia termasuk penghuni neraka, maka tempat tinggalnya dari neraka. Lalu kepadanya dikatakan, ‘Inilah tempat tinggalmu sampai Allah membangkitkanmu pada hari kiamat’.”
Dalam sunan at-Tirmidzi diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW memberitakan bahwa malaikat Munkar dan Nakir berkata kepada seorang mukmin setelah ia menjawab dengan benar, “Kami tahu kau akan mengatakan hal itu.” Kemudian kuburnya dilapangkan seluas tujuh puluh hasta, dan diterangi cahaya. Kepadanya kemudian dikatakan, “Tidurlah” Lalu ia berkata, “Aku akan kembali ke keluargaku untuk mengabari mereka.” Keduanya berkata, “Tidurlah seperti tidurnya pengantin yang tidak bangun kecuali oleh anggota keluarga yang paling dicintainya.” Ia pun tidur, hingga Allah membangkitkannya dari tempat tidur itu. Adapun kepada orang munafik, kedua malaikat tu berkata, “Kami tahu kau akan mengatakan hal itu.” Lalu dikatakan kepada tanah, “Himpitlah dia!” Tanah segera menghimpitnya sampai tulang-tulangnya remuk. Ia senantiasa disiksa sampai dibangkitkan oleh Allah dari tempat tidurnya itu. 

[Sumber: Ensiklopedia Kiamat/ Karya: Dr. Umar Sulayman al-Asykar/Penerbit: Serambi]

Sabtu, 07 Februari 2015

PERINGATAN KEMATIAN





Hukum kematian manusia masih terus terjadi,
Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.
Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita
Dan esok hari tiba-tiba sudah menjadi bagian dari suatu berita
Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan
Maka manusia diantara keduanya, dalam alam impian dan khayalan
Maka selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu,
Akan berlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan.
(Diambil secara bebas dari kitab Laa Tahzan).
DEMIKIANLAH hakikat kematian dan kehidupan. Kehadirannya tidak selalu disertai dengan pendahuluan. Dan demikianlah kematian itu menimpa orang-orang mukmin.
”Diantara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya),” (QS Al-Ahzaab 23).
Setiap Jiwa akan Mati (Kullu nafsi Dzaaiqotul maut)
Khairil Anwar seorang penyair Pujangga Baru yang ingin hidup seribu tahun lagi, akhirnya mati juga bahkan dalam usia muda. Dan nun jauh disana di Palestina, orang-orang Yahudi yang datang dari penjuru dunia dan berkumpul untuk mendapatkan kehidupan dunia. Bahkan al-Qur’an mengabadikannya sebagai kelompok yang sangat rakus dan ingin hidup seribu tahun lebih. Akhirnya harus hidup gelisah, takut dan mencekam serta banyak yang mati dalam menghadapi para mujahidin Intifadhah. Khalid bin Walid yang berkali-kali mengikuti perang bersama Rasul saw. dan sahabat dan dalam tubuhnya ada 70 lebih bekas tusukan pedang, ternyata meninggal dalam pembaringan.
Begitulah ajal, punya cara tersendiri dalam mendatangi manusia. Suatu realitas yang akan menjemput setiap insan tanpa kecuali. Mereka yang sholih dan tholih (durhaka), mu’min dan kafir. Kematian menghancurkan setiap kelezatan dunia dan menghentikan langkah manusia di dunia. Tetapi banyak manusia yang lalai dan abai dari kematian. Padahal melalaikan kematian tidak berguna sama sekali untuk menolak kematian. Kematian pasti akan datang menjemput manusia, baik yang melalaikannya ataupun menyadarinya. Karena kematian adalah realitas (hak). ”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imraan 85).
Kematian akan datang kepada manusia baik secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok atau serentak. Musibah Tsunami, gempa bumi, longsor, badai, gunung meletus, kecelakaan pesawat terbang, kereta api dan kendaraan lainnya telah merenggut ratusan ribu nyawa secara serentak.. Bahkan kematian yang disebabkan karena musibah lebih banyak dari yang disebabkan oleh perang. Malaikat maut tidak pernah merasa lelah mengerjakan tugas ini dari Allah SWT. Dan tidak akan menunda-nunda waktu barang satu menitpun. Pada gilirannya malaikat maut akan menyapa dan mendatangi kita, dimana saja kita berada. ”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS An-Nisa 78). Abu Darda berkata:”Apabila anda mengingat orang-orang yang sudah mati, maka anggaplah dirimu salah seorang di antara mereka”
Kematian merupakan rahasia Allah, tetapi Allah SWT. memberikan tanda-tandanya pada manusia, agar mereka sadar dan mempersiapkannya. Gigi rontok, rambut beruban, anggota badan sakit dan fisik melemah. Tanda-tanda lain berupa isyarat-isyarat yang Allah berikan berupa mimpi dan lainnya. Tanda-tanda ini sejatinya harus menjadi pelajaran dan nasehat bagi kita. Ibrahim An-Nakho’i berkata:”Jika kami datang ke rumah orang yang meninggal dunia atau mendengar ada orang yang meninggal dunia, hal itu membekas pada kami hingga berhari-hari, karena kami tahu akan ada sesuatu (ajal itu akan membawanya ke surga atau neraka)”.
Sakitnya Kematian (Sakaratul Maut)
”Dan datanglah sakaratul maut dengan benar, itulah yang senantiasa kamu hindari” (QS Qaaf 19). Wahai manusia inilah sakaratul maut yang kamu selalu hindari dan lari darinya. Padahal kematian itu pasti, dan sakaratul maut itu akan terjadi.
Sesungguhnya kematian adalah sesuatu yang paling menyakitkan yang akan dirasakan manusia. Bahkan sesuatu yang teramat menyakitkan melebihi yang lainnya. Rasa sakit itu berbanding lurus dengan keimanan dan amal seseorang. Orang-orang kafir akan merasakan sakit yang paling berat. Mereka akan merasakan sakaratul maut berhari-hari bahkan mungkin lebih dari satu minggu. Begitu juga orang yang yang zhalim akan merasakan betapa pedihnya sakaratul maut. Sedangkan orang beriman akan merasakan sakit juga tetapi tidak seperti orang kafir atau zhalim.
Bagi orang beriman, kepedihan dan kesakitan sakaratul maut adalah akhir dari penderitaan di dunia, dan penghapusan atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan untuk kemudian mendapatkan keridhoan Allah dan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan bagi orang-orang kafir sakaratul maut adalah awal dari azab di akhirat untuk kemudian mereka akan merasakan murka Allah dan azab yang lebih berat lagi. Yang pasti kedua golongan itu akan merasakan sakaratul maut. Dan yang paling ringan sakaratul mautnya adalah para syuhada. Bahkan mereka merindukan untuk hidup kembali dan mati syahid kembali.
Betapa beratnya sakaratul maut sampai Rasulullah saw. ketika menjelang ajalnya mencelupkan tangannya pada air dan berdo’a: Ya Allah ringankanlah padaku sakaratul maut” (HR at-Tirmidzi). Al-Qur’an dan Hadits telah menggambarkan bagaimana sakaratul maut. Bagi orang-orang yang kafir sangat menyakitkan sedangkan bagi orang-orang beriman sangat mudah. ” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan ) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya” (QS al- An’am 93).
Kisah tentang kematian dan sakaratul maut sangat banyak sekali. Dan sekarang kita banyak dapati majalah-majalah yang menyebutkan tentang kondisi kematian seseorang, terutama orang-orang yang banyak berbuat maksiat. Para pezina baik lelaki maupun perempuan yang matinya bau busuk, yang mayatnya dimakan ulat dan belatung. Pemakan riba yang matinya gosong terbakar, para pemakan harta anak yatim yang matinya mengerikan, para penjudi yang matinya menghinakan, para pemabuk dan para pemuas seks bebas matinya di pangkuan pelacur. Para pemimpin kafir dan sekuler yang sekaratul mautnya lama dan dirahasiakan dsb. Kisah-kisah itu, walaupun mungkin cerita itu tidak benar semua dan banyak ilustri dan bumbu-bumbu dari sana-sini, tetapi yang pasti tidak semuanya salah.
Ingat Mati (Dzikrul Maut)
BETAPA kuatnya nasehat kematian, sehingga Rasulullah saw. Selalu melakukan ziarah qubur dan mengingat kematian. Dan memerintahkan kepada umatnya untuk berziarah kubur dan mengingat kematian. ” Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan” (HR At-Tirmidzi). Demikian anjuran Rasulullah saw. untuk mengingat kematian, karena mengingat kematian akan meningkatkan kesadaran dan jati diri manusia dalam kehidupan dunia. Mengingat kematian juga akan memberikan dampak positif dalam kehidupan dunia, berupa lembutnya hati, peka dan cepat merespon sehingga terpacu untuk melakukan amal saleh dan meninggalkan kemaksiatan.
Rasulullah saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang ziarahilah kubur, karena melembutkan hati, meneteskan airmata, mengingat akhirat dan berkata jorok,” (HR Al-Hakim). Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i setelah menguburkan saudaranya yang meninggal, berdiri di depan kubur, berusaha memahami bahasa kuburan dan berdialog: ”Aku bertanya pada kuburan, mana harta dan perabotan? Mana kecantikan dan daya tarik? Mana kejayaan dan kesombongan? Mana kehinaan?” Demikianlah salafu shalih berinteraksi dengan kuburan.
Orang yang senantiasa mengingat kematian adalah orang yang paling cerdas. Ukuran kecerdasan seseorang dilihat dari sejauh mana dia bertindak secara efektif dan efesien, berbuat untuk kepentingan diri dan orang lain dan memiliki Visi – Misi jauh kedepan serta memiliki pengendalian diri yang kuat. Dan dengan mengingat kematian seseorang akan beramal sesuai dengan ukuran-ukuran tersebut. Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabat dari Anshar, Ibnu Umar menceritakan:” Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah saw?” Rasul saw. menjawab:” Orang yang paling banyak ingat kematian dan paling banyak mempersiapkan untuk menjumpainya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat,” (HR Ibnu Majah).
Bagi orang-orang beriman yang menyakini hari akhir dan kesenanganan di surga, kematian berarti kunci untuk mendapatkan keni’matan tersebut dan mereka sangat rindu bertemu kekasihnya, Allah SWT. Dan terbebas dari beban-beban dan kesulitan hidup di dunia, karena dunia adalah penjara bagi orang – orang beriman. Sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang yang mencari kematian, merekalah yang mendapatkan kemuliaan di dunia. Para syuhada dalam jihad dan perjuangan merekalah yang mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Abu Bakar as-Shiddiq berkata: ”Bersemangatlah untuk meraih kematian, niscaya Allah akan memberikan padamu kehidupan”. Karena sejatinya orang yang mati syahid di jalan Allah, tidaklah mati, tetapi hidup disisi Allah SWT, hidup di alam barzakh dan hidup di akhirat.
Dzikrul maut telah membakar semangat orang-orang beriman untuk terus beramal shalih, berdakwah dan berjihad dengan tanpa pamrih dan tanpa butuh publikasi media masa. Karena mereka menyakini bahwa semua itu akan dicatat dan dipublikasikan di akhirat kelak. Disinilah perbedaan antara pahlawan dan selebriti. Para pahlawan senantiasa beramal dan berkorban sehingga merubah arah sejarah, mendapat sanjungan dan publikasi yang luas ketika mereka hidup dan meninggal. Sementara selebiriti selalu mencari publikasi untuk mempopulerkan dirinya. Mereka bagian dari korban sejarah dan hanya mendapat sanjungan sebelum meninggal, tetapi setelah meninggal, berita mereka hilang ditelan masa. Para pahlawan selalu mencari kematian sedangkan selebriti selalu mencari kehidupan.
Kehidupan Sesudah Kamatian (Al-Hayaatu ba’dal Maut)
Bagi orang beriman kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan dan membahagiakan. Di surga penuh dengan keni’matan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia 1000 tahun lagi. Tetapi sikap itu adalah sia-sia, dan utopia belaka, karena kematian pasti datang menjumpainya, suka atau tidak suka.
Al-Barra bin ’Azib menceritakan hadits yang panjang riwayat imam Ahmad perjalanan seseorang setelah kematian. Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk diatas kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya. Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari para malaikat menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan memerintahkan pada malaikat:” Catatlah kitab hambaku ke dalam ’illiyiin dan kembalikan ke dunia”. Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan datanglah dua malaikat yang bertanya: Siap Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga mendapat keni’matan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu surga dilapangkan kuburnya dan mendapat teman yang baik, dengan wajah yang baik, pakaian yang baik dan aroma yang baik. Lelaki itu adalah amal perbuatannya.
Sedangkan seorang yang kafir ketika akan meninggal dunia, datanglah malaikat hitam dengan membawa kain kotor. Datanglah malaikat maut dan duduk dikepalanya dan memerintahkan ruh yang buruk untuk keluar dari jasadnya. Malaikat maut menarik ruh itu dari jasadnya seperti menarik duri dari kain wol yang basah. Setelah itu ditaruh di kain yang kotor dan terciumlah bau busuk menyengat. Kemudian dibawa naik ke langit. Dan setiap naik ke langit para malaikat mempertanyakan ruh yang bau busuk tersebut. Dan ruh itu tidak sampai naik langit dimana Allah berada disana dan tidak bertemu Allah. Allah memerintahkan untuk mengembalikan ke jasadnya dan dicatat dalam kitab Sijjin. Datang kedua malaikat bertanya sebagaimana pertanyaan diatas, tetapi orang kafir itu hanya berkata oh-oh dan tidak dapat dijawabnya. Setelah itu diberi alas dari neraka, mendapat siksa kubur dan neraka selalu dibukakan pintunya. Dan ditemani dengan teman yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya dan buruk baunya. Teman itu adalah amalnya ketika di dunia.
Demikianlah, kematian merupakan sebuah pintu pembuka dari kebahagiaan yang abadi atau kesengsaraan yang abadi. Tidak ada pilihan ketiga. Setiap manusia akan melewati pintu itu cepat atau lambat. Dan hakikatnya segala sesuatu yang akan terjadi adalah cepat, karena waktu itu cepat berlalu. Sudah siapkah kita? Lalu persiapan apa yang harus kita lakukan? Hanya ada 3 bekal, harta yang diinfakkan, ilmu yang diamalkan dan anak sholih yang mendo’akan. Sedangkan landasan dari ketiganya yaitu, iman dan taqwa.
Detik-detik Rasulullah saw. menuju Ar-Rafiqul A’la (Daqaiq Rasul ila ar-Rafiqul ’Ala)
Agar kematian kita menjadi indah, agar peringatan kematian berpengaruh sangat kuat, maka alangkah baiknya jika kita mengetahui detik-detik terakhir Rasulullah saw. menuju Ar-Rafiqul A’la.
Isyarat itu berawal ketika Rasulullah saw. menunaikan Haji Wada’ dimana beliau mennyampaikan khutbah yang sangat menyentuh dan diawali:” Wahai manusia dengarkanlah ucapanku, sesungguhnya aku tidak tahu, mungkin tidak akan bertemu kalian lagi selepas tahun ini di tempat ini selamanya”. Dan setelah khutbah selesai, maka turunlah surat al-Maa-idah 3, ”Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu ni’mat-Ku, dan telah Aku ridhai bagimu Islam sebagai agamamu”. Saat mendengar ayat itu, Umar ra menangis, dan ketika ditanya kenapa anda menangis ? Umar menjawab:” Karena tidak ada setelah kesempurnaan kecuali kekurangan”.
DAN di hari Tasyrik turun surat an-Nashr. Ibnu Abbas mengomentari turunnya ayat ini, bahwa sudah dekat ajal Rasulullah saw. Di bulan Safar beliau mengunjungi syuhada Uhud dan menunaikan sholat untuk mereka, seolah mengucapkan perpisahan bagi yang hidup dan yang mati. Kemudian ke masjid Nabawi dan berkhutbah diatas mimbar:” Saya akan mendahului kalian dan saya akan menjadi saksi bagi kalian. Dan demi Allah saya akan melihat telagaku sekarang, saya diberi kunci-kunci perbendaharaan dunia, dan saya demi Allah tidak takut kalian musyrik setelahku, tetapi aku takut kalian akan berlomba-lomba meraih dunia”.
Malamnya beliau menuju kuburan Baqi dan memohonkan ampun bagi mereka dan mengucapkan salam: Assalamu’alaikum wahai ahli kubur. Beliau meneruskan:” Akan terjadi fitnah seperti gelapnya malam yang terakhir mengikuti yang awal, dan yang akhir lebih buruk dari yang awal”. Rasulullah saw. memberikan kabar gembira pada ahli Baqi dan berkata:” Kami akan menyusul kalian”.
Permulaan Rasulullah saw. sakit di akhir bulan Safar setelah mengantarkan jenazah, sakit kepala berat dan demam. Pada saat sakit berat itu Rasulullah masih sempat bertanya giliran pada istrinya: ”Saya besok dimana ?”. Maka seluruh istrinya setuju untuk dirawat dirumah ’Aisyah ra. ’Aisyah senatiasa membacakan Al-Qur’an, surat Al-Falaq dan Anas dan membacakan do’a untuk Rasul saw.
Pada hari kelima sebelum wafatnya, panas dan demam Rasulullah saw. meningkat dan minta disiram air. ” Siramilah aku tujuh gayung dari sumur yang berbeda supaya aku bisa bertemu sahabat. Kemudian panasnya berkurang dan masuk masjid, duduk di belakang mimbar dan berkhutbah:” Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Kemudian melanjutkan:” Janganlah engkau jadikan kuburku patung yang disembah”. Kemudian beliau menawarkan dirinya untuk diqishos:” Siapa yang dahulu pundaknya di cambuk, maka inilah pundaku siap di cambuk, siapa yang dahulu kehormatannya dicederai, maka inilah kehormatanku siapa dibalas”. Setelah itu sholat Dzuhur. Dan ba’da sholat Dzhuhur beliau melanjutkan khutbah, berbicara tentang keutamaan Abu Bakar dan keutamaan Al-Anshar.
Pada hari keempat sebelum wafatnya Rasulullah saw. memberikan beberapa wasiat. Pertama; wasiat agar membebaskan Jazirah Arab dari Yahudi, Nashrani dan Musyrik, kedua; wasiat untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, ketiga; wasiat untuk tetap menjaga shalat dan memelihara budak”. Dan walaupun sakit berat, Rasulullah saw. tetap shalat bersama para sahabat. Pada malam hari menjelang ’Isya, sakit Rasulullah semakin berat dan tidak mampu keluar masjid. Rasul saw. bertanya pada ’Aisyah:” Apakah manusia sudah shalat ? ”. ”Belum wahai Rasulullah, mereka menunggumu”. Rasul berkata:” Letakkan air wudhu, ketika Rasul akan wudhu jatuh pingsan, dan ketika sadar bertanya lagi:” Apakah manusia sudah shalat ?” Dan begitulah ketika Rasul saw akan wudhu terjatuh lagi, sehingga mengutus seseorang agar Abu Bakar mengimami shalat. Dan Abu Bakar mengimami shalat selama 17 kali selagi Rasul saw. masih hidup. Sebenarnya ’Aisyah meminta berkali-kali agar jangan Abu Bakar yang mengimami shalat, tetapi Rasul saw. menolaknya dan tetap menyuruh Abu Bakar untuk mengimami shalat.
Sehari sebelum wafat, kondisi Rasul saw. agak ringan sehingga keluar bersama manusia untuk sholat berjamaah. Melihat itu Abu Bakar mundur, tetapi Rasul saw. mengisyaratkan untuk tidak mundur. Dan Abu Bakar mengikuti shalat Rasul saw. Rasul saw. memerdekakan budak-budaknya, bersedekah 7 dinar dan memberikan alat-alat perang pada sahabat. Malamnya ’Aisyah hutang minyak pada tetangganya sedang baju besi Rasulullah saw digadaikan pada seorang yahudi untuk mendapatkan 30 sha gandum.
Pada hari Senin Shubuh Rasulullah saw. menyingkapkan tirai kamarnya dan para sahabat kaget bercampur gembira, menyangka Rasul saw. akan ikut shalat bersama mereka. Rasul melihat mereka dan mengisyaratkan untuk melanjutkan shalatnya. Kemudian Rasul saw. menutup tirai dan tidak shalat bersama mereka. Ketika waktu Dhuha Rasul memanggil Fatimah membisiki sesuatu lalu Fatimah menangis. Kemudian membisiki lagi dan Fatimah tersenyum. ’Aisyah bertanya- setelah wafatnya Rasul- tentang isi bisikan itu, maka Fatimah ra. menyampaikan:” Bahwa Rasul akan wafatnya, maka Fatimah menangis, kemudian dibisiki lagi, bahwa keluarga pertama yang akan menyusul Rasul saw. adalah Fatimah ra. maka beliau tertawa. Dan Rasul saw. juga memberikan kabar gembira bahwa Fatimah adalah pemimpin wanita (wanita terbaik) dunia.
Melihat betapa beratnya penderitaan Rasul maka Fatimah r. berkata:” Betapa beratnya engkau wahai ayahku”. Rasul menjawab:” Bapakmu tidak akan ada lagi penderitaan setelah ini”. Kemudian memanggil Al-Hasan dan Al-Husain dan menciumnya dan memberi wasiat yang baik pada keduanya. Mendo’akan istri-istrinya dan memberi nasehat.
‘Aisyah membaringkan Rasul saw. dipangkuannya, Abdurahman bin Abu Bakar masuk memberi siwak, dan Rasul saw bersiwak, mengambil sedikit air mengusap mukanya, ‘Aisyah mendengar bisikan Rasul saw. terakhir:” Bersama orang-orang Engkau yang telah beri ni’mat dari para nabi, shidiiqin, syuhada dan sholihin. Ya Allah amuni aku, rahmati aku, dan sampaikan aku dengan Ar-Rafiqul A’la (Kekasih Agung, Allah), Kekasih Agung”.
Demikian kematian senantiasa memberi nasehat bagi setiap manusia yang lalai agar kembali kepada Allah. Kematian adalah pemberi nasehat yang bisu, pemberi nasehat yang setia mengunjungi manusia dalam suka dan duka dan cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.
Dan akhirnya semoga kita diberikan tetap istiqomah dalam keimanan sehingga di akhirat kelak akan dikumpulkan bersama para nabi shiddiqin, syuhada dan shalihin. Amien Yaa Rabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bishowwab. []

Sumber: Majalah SAKSI, Jakarta